phone: +361 5531030
e-mail: semangatyudi@yahoo.com
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Begitulah hidup



Setiap orang selalu menyalahkan nasib, jika sedang dirundung malang. Tapi ketika mendapat kenikmatan, lupa bersyukur. Kemudian ada yang tidak percaya lagi dengan Tuhan, karena menganggap sudah diperlakukan tidak adil. Maka, mereka menganggap hidup ini teka-teki, yang sukar ditebak. Padahal, jika kita menganggap hidup ini teka-teki, tak perlu gusar. Lihatlah anak-anak. Mereka hampir setiap hari bermain teka-teki. Mereka sangat menikmati permainan teka-teki itu. Jika seorang anak melemparkan teka-teki, anak yang lain riuh menjawabnya. Jika salah menerka, mereka tetap tertawa. Mereka sangat menikmatinya; tak penting berhasil menebak atau tidak. Yang penting bagi mereka, menikmati permainan dengan gembira. Kita bisa belajar dari anak-anak. Begitulah hidup.

Kosongkan Cangkir Tehmu



Di sebuah kerajaan, karena kesibukan sang raja memerintah, permaisurilah yang menemani dan sangat memanjakan sang pangeran. Pangeran tumbuh menjadi pemuda yang sombong, egois, kurang sopan santun, dan malas belajar. Raja sangat sedih memikirkan sikap pangeran muda. Bagaimana nasib negeri ini nantinya?

Setelah berbincang dengan permaisuri, raja pun bertitah: "Anakku, tahta kerajaan akan ayah serahkan kepadamu, tetapi dengan syarat engkau harus tinggal dan belajar selama 1 tahun di atas bukit bersama seorang guru yang telah ayah pilih. Bila engkau gagal, maka tahta kerajaan akan ayah serahkan kepada orang lain."

Pangeran serta merta menyanggupi persyaratan itu. Dalam hati ia berkata, "Apalah artinya penderitaan 1 tahun dibandingkan kelak sebagai raja, aku bisa hidup mewah dan bersenang-senang seumur hidupku!"

Setibanya di kediaman sang guru, tingkah laku pangeran tetap sombong, menyebalkan, dan tidak sopan. Dia merasa sebagai pangeran, semua orang harus menuruti kemauannya. Setiap kali gurunya bertanya, pangeran menjawab semaunya. Setiap kali gurunya menerangkan pelajaran, pangeran tidak mendengarkan-merasa sudah tahu semua.

Tidak terasa haripun berganti minggu. Sang guru berpikir keras tentang cara untuk memberi pelajaran kepada pangeran yang sombong dan sok pintar itu.

Suatu hari, sang guru menyeduh teh dan menuangkan ke cangkir pangeran. Air teh dituang terus dan terus hingga tumpah ke mana-mana sehingga mengenai tangan sang pangeran. Pangeran berteriak marah, "Hai, bodoh sekali! Menuang teh saja tidak becus! Cangkir sudah penuh mengapa masih dituang terus? Air mendidih, lagi!"

Dengan tersenyum sang guru berkata tegas, "Beruntung hanya tangan pengeran yang terkena percikan teh panas. Sebagai seorang pangeran, calon raja dan suri tauladan bagi rakyatnya, tidak sepantasnya berkata tidak sopan seperti itu, lebih-lebih kepada gurunya sehingga sepantasnya mulut pangeranlah yang harus dituang teh panas ini.

Guru sengaja menuang terus cangkir yang telah terisi penuh karena ingin mengajarkan kepada Yang Mulia bahwa cangkir teh diumpamakan sama seperti otak manusia. Bila telah terisi penuh maka tidak mungkin diisi lagi. Karenanya kosongkan dulu cangkirmu, kosongkan pikiranmu, agar bisa diisi hal-hal baru yang positif. Hanya bekal ini yang ingin guru sampaikan. Bila pangeran tidak berkenan, silakan pergi dari sini."

Mendengar perkataan sang gurunya yang tegas, pangeran seketika tertunduk malu. Peristiwa itu menyadarkan pangeran untuk mengubah sikapnya dan menerima pelajaran dari gurunya. Tentu saja perubahan sikap pengeran ini membuat raja sangat bergembira.

Dear Teman" Pembaca :

Karena status, pendidikan, atau kedudukan, seringkali seseorang merasa lebih tahu, lebih mengerti, dan lebih pintar dari orang lain. Sikap seperti ini membuat pikiran tertutup (atau mental block), sulit menerima hal-hal baru yang diberikan oleh orang lain.

Sikap seperti ini jelas merugikan dirinya sendiri. Jika kita bisa bersikap open mind / membuka pikiran dalam menerima hal-hal baru dan mau menerima kritikan yang diberikan oleh orang lain, maka kita akan dapat memetik banyak keuntungan; seperti bertambahnya wawasan, ide, pengetahuan, pengertian, wisdom, dan lain sebagainya. Pasti semua itu bisa kita manfaatkan untuk mengembangkan dan menciptakan kesuksesan.

Optimislah dalam Kehidupan


“Ketika Anda memasukui ruang ujian, sebutlah Asma Allah, baca semua soal dengan tenang dan teliti, jangan terburu-buru, kemudian mulailah dengan soal yang paling mudah agar Anda tidak grogi dan kehilangan banyak waktu!” Demikian nasihat yang sering kita dengar dari orang tua, guru, bahkan para pengawas ujian.

Saran di atas ditujukan itu tidak lain agar kita tidak takut menghadapi ujian sehingga kita tidak terpengaruh oleh suasana tegang yang mengakibatkan tersia-sianya waktu.

Kondisi seperti inilah yang kita hadapi sekarang ini di dunia. Dunia ini tidak lain adalah panggung ujian yang di dalamnya orang-orang mukmin diuji di antara orang-orang kafir, untuk melihat mana yang jujur dan mana yang bohong, siapa yang setia dan siapa yang khianat. Benar nasihat tersebut berlaku untuk ujian remeh yang sering kita laksanakan di sekolahan, tetapi bagaimanakah nasihat itu dapat bekerja efektif apabila dihadapkan ujian dunia yang maha berat dan besar ini?

Sebenarnya, ketika Anda berpikir apa yang bisa Anda lakukan dalam menghadapi ujian dunia ini, maka Anda dapat menempuh banyak cara dan upaya. Hanya saja, kunci dari semua nasihat yang mereka berikan itu bertumpu pada satu kata, “optimis”.
Benar..., optimislah!”

Hal apa lagi yang membuat hidup kita tidak berjalan normal, melainkan ia disebabkan oleh kehilangan harapan, lemahnya tekad, pesimis dan frustasi yang terus menghantui?

Apa lagi yang membuat hidup kita menjadi bergairah apabila kita optimis, terus berharap, melalaikan duka-lara, gembira, dan semangat dalam menghadapi segala kehidupan dan tantangannya? Mari kita ubah segala kondisi negatif yang melingkupi kita menjadi peluang. Tinggalkan rasa jenuh dan bosan dengan usaha pantang menyerah demi suatu perubahan!

Apakah semua ini dapat Anda gapai tanpa bersenjatakan optimis?

Bagaimana mungkin Anda dapat berharap bahwa besok lebih baik, sementara Anda tidak optimis dan menerima kondisi Anda sekarang ini?

Bagaimana mungkin Anda bisa tersenyum optimis di hadapan segala kesulitan apabila Anda tidak yakin bahwa setelah segala kesusahan ini akan datang kelapangan dan kemudahan?

Mengapa Anda harus optimis. Agar Anda lulus menghadapi ujian dunia ini, agar semua aktiitas Anda sekarang ini menghantarkan Anda lulus dalam menghadapai ujian, agar setiap langkah yang Anda tempuh akan menghantakan pada gerbang kesuksesan, dan agar semuanya tampak ringan dan benar-benar ringan ketika Anda menjalaninya.

Anda akan memerlukan sikap optimis untuk menjadi manusia...
Untuk membangkitkan Anda dari kelesuan yang Anda derita
Untuk memberanikan diri Anda menggapai hal-hal yang mustahil
Untuk terus membakar semangat Anda agar selalu bergelora penuh harapan
Untuk terus memberikan Anda keyakinan bahwa esok lebih baik

Sobat, Andalah yang akan mendapatkan teman setia dengan optimisme Anda. Merekalah yang akan berjuang bersama Anda untuk meraih cita-cita dan menghadapi tantangan hidup. Merekalah yang akan menetapkan kaki Anda dan meyakinkan tekad Anda agar tetap konsekuen dengan cita-cita. Agar ujian ini rampung dengan kelulusan yang memuaskan dan mendapatkan keberuntungan di sisi Tuhan

Kita berpikir, betapa rumput tetangga jauh lebih hijau.



Banyak orang berkata, pada dasarnya manusia adalah makhluk yang tidak pernah puas.

Quote ini membuat saya berpikir


Terkadang kita jatuh pada kesalahan “menginginkan milik orang lain”, entah itu handphone yang lebih canggih, pacar yang lebih cantik, otak yang lebih pintar, uang yang lebih banyak, gaji yang lebih besar, mobil yang lebih mewah, karir yang lebih menjanjikan, hidup yang lebih bahagia, dan lain sebagainya.

Kita berpikir, betapa rumput tetangga jauh lebih hijau.

Kita berpikir, kita akan bahagia jika kita bisa memiliki rumput seperti rumput tetangga.

Teman, mungkin benar, rumput tetangga mungkin lebih hijau dan Anda suka melihat rumput yang hijau. Namun, itu tidak berarti Anda suka tinggal di kebun dengan rumput yang hijau. Melihat berbeda dengan menghidupi.

Ketika melihat rumput yang hijau, mungkin kita hanya membayangkan hal-hal yang begitu baik dan indahnya. Ketika kita hanya melihat rumput hijau itu, kita tidak melihat hama-hama yang ada di balik rumput itu. Kita tidak tahu kalau rumput hijau mengundang lebih banyak hama. Kita tidak tahu juga perawatan ekstra yang dibutuhkan untuk menjadikan rumput itu tetap hijau.

Ketika kita mulai hidup di tengah kebun dengan rumput hijau tersebut, kita baru menyadari keberadaan hama-hama itu, dan rumput hijau itu menjadi tidak seindah yang kita pikirkan sebelumnya.

Teman, rumput kita mungkin tidak sehijau rumput tetangga, tapi ingatlah bahwa buah kebun kita lebih manis.

Apabila kita terus-menerus menginginkan hal yang tidak kita miliki tanpa mensyukuri apa yang kita miliki, kita takkan pernah bahagia, karena kita takkan pernah mendapatkan hal yang kita inginkan. Tapi, cobalah tengok apa yang Anda miliki. Kalau Anda merenungkannya, Anda akan terkejut melihat bahwa begitu banyak hal yang Anda bisa syukuri dari apa yang Anda miliki.

Dan rasa syukur itulah yang membuatmu bahagia.

Bersyukurlah senantiasa, maka Anda akan berbahagia. Kenapa? Karena, hanya orang yang bahagia yang bisa bersyukur.

Kiranya Tuhan memampukan kita untuk senantiasa bersyukur